Posted on

Ide Bisnis Menjelang Natal dan Tahun Baru

Momen akhir tahun menjelang tahun baru memang dekat dengan Natal sehingga biasanya banyak yang merayakan momen tersebut secara bersama. Pastinya berbagai kebutuhan untuk Natal dan Tahun Baru akan sangat diburu terutama bagi mereka yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Hal inilah yang menimbulkan inisiatif dan ide dari banyak orang untuk mengembangkan bisnis yang menguntungkan.

Meskipun tergolong bisnis musiman serta jangka waktunya yang relatif singkat hanya berlaku sekitar 2-3 bulan saja, tetapi nyatanya bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru mampu mendatangkan keuntungan yang sangat menggiurkan. Bahkan Anda tak perlu khawatir karena banyak ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru yang bisa Anda pilih dan dijamin dapat mendatangkan banyak keuntungan.

Dengan datangnya momen Tahun Baru dan Natal yang memang berdekatan pastinya dapat menjadi peluang bagi para pebisnis yang ingin mencoba keuntungan. Biasanya datangnya Natal dan Tahun Baru sangat identik dengan adanya perayaan serta berbagai barang kebutuhan yang bisa digunakan untuk melengkapi perayaan akhir tahun. Hal ini tentu akan sangat memudahkan Anda untuk mengambil peluang yang ada dengan menawarkan berbagai kebutuhan untuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Bagi Anda yang ingin mencoba berbisnis bisa memanfaatkan momen akhir tahun yang akan datang dalam waktu dekat. Pastikan Anda menemukan ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru secara tepat agar nantinya bisnis tersebut dapat berkembang dan banyak dicari oleh para konsumen sehingga mendapatkan keuntungan yang besar.

Meskipun peluang bisnis ini memang sangat besar, tetapi tak sedikit masyarakat yang masih bingung memilih ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru yang tepat. Bagi Anda yang berminat ingin memiliki bisnis ini, berikut dijelaskan beberapa ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru yang menguntungkan untuk dijalankan :

1. Bisnis Parcel

Ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru yang pertama adalah bisnis parcel. Bagi kaum Kristiani, Tahun Baru dan Natal merupakan dua momen yang sangat istimewa sehingga tak akan dilewatkan begitu saja. Selain identik dengan pernak-pernik khas Natal dan Tahun Baru, di momen ini banyak orang yang akan memberikan hadiah maupun kenang-kenangan untuk keluarga maupun sanak saudara.

Supaya hadiah tersebut lebih menarik dan indah, sebaiknya dibungkus dalam bentuk parcel. Biasanya bisnis parcel akan semakin meningkat tajam permintaannya menjelang Natal dan Tahun Baru sehingga Anda bisa memanfaatkan momen ini untuk berbisnis parcel.

Bahkan keuntungan yang bisa anda peroleh dari bisnis ini bisa mencapai 100%. Nah, jelas sangat menggiurkan bukan? Tetapi pastikan Anda menguasai keahlian membuat parcel agar konsumen semakin tertarik dan berminat memesan parcel Anda.

2. Jualan Kue Kering

Tak hanya pada Idul Fitri saja, kue kering juga banyak diminati saat Natal dan Tahun Baru. Kue kering biasanya menjadi suguhan atau hantaran. Pastinya para penjual kue kering sering kebanjiran pesanan sehingga bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan untuk Anda.

Anda bisa menawarkan jenis kue kering yang unik dan khas sehingga konsumen merasa penasaran dan ingi memesan kue kering Anda. Tak lupa untuk menjaga cita rasa dan tampilan kue kering Anda sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen yang membutuhkan kue kering untuk melengkapi momen akhir tahun.

3. Bisnis Kembang Api dan Terompet

Ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru berikutnya adalah menjual kembang api dan terompet. Rasanya kurang lengkap jika menghabiskan momen Natal dan Tahun Baru tanpa adanya kembang api dan terompet. Tak heran kedua barang ini sangat banyak dicari oleh pembeli agar perayaan akhir tahun bisa semakin meriah.

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa tanpa kembang api dan terompet rasanya tahun baru terasa kurang lengkap terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan. Untuk bisnis kembang api Anda bisa bekerjasama dengan distributor atau supplier yang menawarkan harga grosir. Sedangkan untuk bisnis terompet bisa Anda buat sendiri denan menggunakan bahan-bahan yang mudah.

4. Aksesoris dan Kerajinan

Bagi Anda yang memiliki keahlian khusus seperti merajut, menggambar, serta membuat kerajinan sebaiknya gunakan kemampuan tersebut untuk menemukan ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru.

Kemampuan Anda tersebut bisa menjadi modal yang penting untuk mencoba berbisnis menjelang Natal dan Tahun Baru. Pada saat menjelang Natal banyak aksesoris yang dibutuhkan untuk melengkapi hiasan ruangan.

Aksesoris tersebut biasanya berupa hiasan untuk pohon Natal, kaos bertema Natal, aksesoris wanita, dan lain sebagainya. Anda bisa mencari ide baru yang belum pernah ada sebelumnya lalu coba kembangkan dan tawarkan pada konsumen sehingga momen Natal akan semakin meriah dengan adanya aksesoris yang unik dan lebih menarik.

5. Bisnis Pakaian

Menjelang akhir tahun pastinya banyak orang yang ingin membeli baju baru untuk menghadiri berbagai acara akhir tahun. Di momen inilah Anda bisa mencoba berbisnis pakaian terutama yang bertemakan Natal dan Tahun Baru. Meskipun sebetulnya bisnis pakaian bisa dilakukan kapan saja tanpa menunggu saat Natal dan Tahun Baru tetapi tidak ada salahnya jika Anda mencoba menawarkan model produk pakaian yang sesuai dengan tema akhir tahun sehingga akan membuat para konsumen ingin memilikinya.

6. Usaha Catering

Merayakan Natal dan Tahun Baru memang seolah tak lengkap jika tak berkumpul dengan keluarga sambil menikmati aneka hidangan yang lezat. Oleh karena itu pada saat ini biasanya banyak orang yang akan memesan catering untuk hidangan pada saat kumpul-kumpul.

Bagi masyarakat yang tak memiliki banyak waktu memasak sendiri sajian hidangan Natal dan Tahun Baru, silahkan untuk memesan jasa catering saja. Bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru yang satu ini memang sangat menggiurkan karena makanan merupakan kebutuhan penting serta mampu meningkatkan kehangatan dalam keluarga saat berkumpul sambil menikmati aneka hidangan yang tersaji untuk perayaan akhir tahun. Pastikan Anda mengetahui menu apa saja yang menjadi favorit untuk disajikan sebagai menu andalan Anda.

Bagi Anda yang ingin menggunakan kesempatan menjelang akhir tahun ini untuk berbisnis sebaiknya pelajari ide bisnis menjelang Natal dan Tahun Baru yang telah disajikan di atas. Dengan memilih bisnis yang tepat sesuai dengan momen dan kebutuhan konsumen pastinya akan menjadi peluang yang sangat menggiurkan dan mendatangkan banyak keuntungan sehingga tak boleh Anda lewatkan begitu saja.

Sumber : 6 Ide Bisnis yang Menguntungkan Menjelang Natal dan Tahun Baru

Posted on

Cara Aman Belanja dan Melakukan Pembayaran

Belanja online adalah cara terbaik untuk membandingkan harga, mencari barang murah dan menghemat uang dari mana saja dengan koneksi internet atau data seluler. Tetapi karena popularitasnya telah meningkat, demikian pula risikonya, dengan semakin banyak orang yang mencoba menipu Anda dari uang Anda atau mencuri detail kartu Anda. Untungnya, jika Anda mengikuti beberapa aturan sederhana, Anda dapat memiliki pengalaman belanja online yang aman dan terjamin.

Tips Belanja Online yang Aman

Ini adalah beberapa cara yang sangat sederhana untuk berbelanja online dengan aman yang dapat Anda gunakan setiap hari:

  • Teliti pengecer online untuk memastikan mereka sah.
  • Pastikan situs web aman.
  • Ketahui hak-hak Anda dan kebijakan pengembalian perusahaan.
  • Tetap perbarui perlindungan perangkat lunak dan virus dan gunakan kata sandi yang kuat untuk akun online.
  • Jangan gunakan Wi-Fi publik. Koneksi data standar Anda lebih aman.
  • Bayar menggunakan kartu kredit. Anda akan memiliki lebih banyak perlindungan. Atau, layanan online seperti PayPal berarti penipu tidak akan dapat memperoleh detail bank Anda.
  • Jadilah cerdas. Jika kesepakatan terlihat terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, mungkin itu benar.

Bagaimanakah Belanja Online yang Aman?

Teliti Penjual dan Websitenya

Ada ribuan situs web untuk berbelanja di internet, banyak dengan ribuan lebih banyak penjual independen. Sebagian besar dari ini sah-sah saja, tetapi menemukan yang curang membutuhkan sedikit riset.

Jika Anda menggunakan situs web yang belum pernah Anda gunakan sebelumnya, cari secara online untuk melihat apakah mereka memiliki umpan balik negatif. Untuk penjual independen di situs web, Anda dapat memeriksa ulasan daring mereka di situs seperti TrustPilot.

Pengembalian dan pemalsuan

Ada juga beberapa informasi yang harus Anda ketahui sebelum membeli secara online.

Berapa lama waktu pengiriman dan dari mana barang dikirim? Penjual yang berbasis di Inggris atau Eropa harus dapat mengirimkan dalam waktu seminggu, jika barang tersebut dalam persediaan.

Apa kebijakan pengembalian? Jika mereka tampaknya tidak memilikinya, Anda harus curiga. Mengetahui kebijakan apa yang akan membantu Anda jika sesuatu tidak terkirim atau tiba rusak, bahkan jika penjual tidak mencoba menipu Anda.

Ada juga pasar online besar untuk menjual barang palsu. Ini bisa sulit dikenali, bahkan ketika Anda sudah memiliki produk di tangan Anda. Tetapi dengan menyadari hal ini dan meneliti berapa harga barang yang sebenarnya, akan memberi Anda gambaran kapan tawaran itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Bagaimana Anda dapat mengetahui apakah suatu situs web aman

Hanya masukkan rincian kartu Anda ke situs web yang aman. Perhatikan tanda-tanda berikut untuk mengetahui bahwa Anda berbelanja dengan aman. Ingat, ini hanya berarti situs itu aman, bukan berarti penjual itu jujur.

Simbol gembok – Seharusnya ada gembok di bilah alamat di sebelah alamat situs web.

Alamat situs web – Ini harus dimulai dengan https: //. S adalah singkatan dari secure

Bilah alamat hijau – Pada browser dan situs web tertentu bilah alamat akan berubah menjadi hijau.

Sertifikat yang valid – Jika Anda mengklik simbol gembok atau hanya di sebelah kiri bilah alamat, Anda harus melihat informasi di sertifikat situs. Ini akan memberi tahu Anda siapa yang telah mendaftarkan situs tersebut. Jika Anda mendapat peringatan tentang sertifikat, hindari situs web.

Apa itu penipuan pembuatan situs web

Anda juga harus mengetahui penipuan pharming, di mana penipu menyerang situs web yang Anda coba gunakan.

Itu akan muncul seolah-olah Anda telah pergi ke situs web yang benar, tetapi ini adalah versi palsu yang dirancang untuk mencuri informasi Anda. Waspadai alamat web yang tampak aneh dengan pilihan angka atau ejaan yang berbeda.

Keamanan online

Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menjaga diri Anda tetap aman saat online.

Pastikan perangkat lunak dan perlindungan anti-virus Anda mutakhir. Pembaruan sering kali berisi perubahan yang membantu melindungi Anda dan perangkat Anda dari scammer dan penjahat online.

Selalu pilih kata sandi yang kuat untuk akun online Anda, menggunakan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan karakter khusus. Menggunakan frasa atau kalimat adalah praktik yang baik.

Keamanan Wi-Fi

Pastikan koneksi internet yang Anda gunakan aman. Jangan gunakan Wi-Fi publik di kedai kopi, pusat perbelanjaan, dan tempat lain untuk berbelanja online, gunakan internet banking atau apa pun yang mengharuskan Anda mengirim informasi pribadi.

Ini karena Wi-Fi publik seringkali tidak aman, yang berarti informasi apa pun yang Anda kirim saat terhubung ke jaringan ini dapat diakses oleh penipu. Bahkan data seluler biasa Anda lebih aman daripada Wi-Fi publik.

Safest way to purchase online

Melindungi diri Anda saat membayar sangat penting. Anda mungkin kehilangan sedikit uang jika Anda membeli dari penjual palsu, tetapi Anda bisa kehilangan banyak, atau bahkan segalanya, jika detail Anda dicuri.

Banyak bank dan building society menambahkan keamanan ekstra saat Anda membeli online, yang melibatkan otorisasi dua faktor (2FA).

Ini berarti, ketika Anda berada di checkout online, Anda harus melewati tingkat keamanan ekstra untuk membuktikannya saat Anda melakukan pembelian.

Bentuk 2FA yang paling umum adalah kode satu kali, dikirim melalui pesan teks, ke nomor telepon yang terdaftar ke akun. Namun, itu juga bisa melibatkan pertanyaan keamanan, masuk ke aplikasi mobile banking Anda, atau pemindaian sidik jari.

Menggunakan layanan e-money seperti PayPal patut dipertimbangkan karena Anda tidak perlu memberikan detail kartu Anda yang sebenarnya.

Bagaimana Anda terlindungi menggunakan kartu untuk membeli secara online

Menurut pasal 75 Undang-Undang Kredit Konsumen, membayar dengan kartu kredit juga akan memberi Anda perlindungan tambahan atas pembelian lebih dari £ 100 hingga £ 30.000. Ini berarti penyedia kartu memiliki tanggung jawab yang sama dengan penjual atas barang-barang yang rusak, tidak memuaskan atau tidak terkirim.

Anda mungkin juga ditanggung untuk pembelian di bawah £ 100 yang dilakukan dengan kartu debit atau kredit di bawah skema sukarela yang disebut tolak bayar. Ini memungkinkan Anda untuk mengklaim pengembalian uang dari penyedia kartu Anda jika pembelian tidak sampai atau salah.

Apa yang harus dilakukan jika terjadi kesalahan

Langkah pertama, jika Anda telah mengirim barang yang salah atau cacat, harus menghubungi penjual online dan situs web yang Anda gunakan seperti eBay atau Amazon.

Jika Anda membayar dengan kartu dan Anda tidak puas dengan respons pengecer, atau Anda tidak menerima tanggapan, hubungi penyedia kartu Anda.

Jika menurut Anda kartu Anda telah digunakan secara curang, beri tahu bank Anda segera sehingga mereka dapat menghentikan penggunaannya lebih lanjut.

Selama Anda belum bertindak secara curang atau lalai, Anda biasanya akan mendapatkan uang Anda kembali dari perusahaan kartu Anda jika detail kartu Anda digunakan secara online oleh penjahat untuk melakukan penipuan.

Sumber : Shopping and paying safely online

Posted on

Bagaimana Menjual Produk atau Service Secara Efektif

Menjual adalah seni mencocokkan manfaat produk dengan kebutuhan atau keinginan pelanggan. Jual penawaran bisnis Anda dengan mengkomunikasikan nilai produk atau layanan Anda kepada pelanggan potensial Anda. Pimpin pelanggan melalui keputusan pembelian dan fasilitasi transaksi yang memuaskan.

Kenali produk Anda. Bayangkan setiap pertanyaan yang mungkin ditanyakan calon pelanggan dan siapkan diri Anda dengan jawaban, yang menghubungkan setiap fakta produk dengan manfaat pelanggan.

Jelaskan penawaran Anda dalam sebuah kalimat. Ringkas semua yang Anda ketahui menjadi penjelasan singkat yang dapat menarik minat dan membuat prospek berpikir, “Hmm, ini akan menguntungkan saya.”

Ketahui prospek Anda. Kunjungi situs-situs Web, baca brosur perusahaan, bicaralah dengan rekan-rekan satu sama lain, dan lakukan riset apa pun yang diperlukan untuk datang berbekal pengetahuan prospek.

Ketahui pesan apa yang siap diterima prospek Anda. Terutama jika penawaran Anda adalah penawaran baru atau tidak biasa, Anda mungkin perlu membantu prospek melihat kebutuhan sebelum meminta pesanan.

Tetapkan tujuan presentasi penjualan Anda. Seringkali, tujuan Anda adalah langkah tambahan – untuk mendorong prospek untuk meminta proposal, untuk menjadwalkan pertemuan dengan pembuat keputusan tingkat tinggi, untuk mengatur demonstrasi, atau untuk mengambil beberapa langkah lain untuk memindahkan proses menuju langkah terakhir.

Berpakaian untuk kesuksesan. Aturan umum adalah memproyeksikan citra bisnis Anda sendiri dengan baik sambil berpakaian setidaknya secara formal seperti orang-orang yang akan Anda tunjukkan.

Posted on

10 Tools Penelitian Pasar (Market Research) yang Seharusnya Anda Gunakan

Setiap pekerja memerlukan kotak alatnya dan peneliti pasar juga tidak berbeda. Alat yang jelas Anda butuhkan adalah platform penelitian kelas dunia, tetapi mari kita lihat beberapa alat riset pasar untuk membantu Anda menciptakan pengalaman terbaik bagi pelanggan dan karyawan Anda.

  1. Tableau
    Tableau adalah alat visualisasi data yang membantu Anda melihat dan memahami data riset pasar dengan analitik, visualisasi, dan intelijen bisnis. Anda dapat membuat dan mendistribusikan dasbor yang interaktif dan dapat dibagikan dan variasinya dengan bagan dan tabel berwarna. Tableau terhubung ke file Anda untuk mendapatkan dan memproses data.
  2. Google Keyword Tools
    Jika mata adalah jendela menuju jiwa, Google Kata Kunci adalah jendela ke web. Alat Google ini (Toogle?) Menunjukkan kepada Anda volume pencarian kata kunci, seberapa kompetitif kata kunci tersebut, dan bagaimana kata kunci saling terkait. Jika Anda ingin mempelajari tentang asosiasi mental yang dimiliki konsumen antara produk, konsep, dan peristiwa, Anda dapat dengan mudah menemukannya di sini. Untuk memulai, Anda harus membuat akun AdWords gratis.
  3. Sample Size Calculator
    Kalkulator ukuran sampel dari Qualtrics membantu Anda menentukan ukuran sampel ideal Anda dalam hitungan detik. Masukkan saja tingkat kepercayaan, ukuran populasi, margin kesalahan, dan ukuran sampel yang tepat dihitung untuk Anda.
  4. Social Mention
    Social Mention adalah platform pencarian real-time yang membimbing Anda tentang apa yang sedang tren di dunia media sosial. Ini mengumpulkan konten yang dibuat pengguna dari seluruh alam semesta menjadi satu umpan informasi. Anda dapat melihat data yang dikumpulkan dari lebih dari 80 properti media sosial berdasarkan “kekuatan”, atau kemungkinan bahwa suatu merek sedang dibahas.
  5. Percent Change Calculator
    Tentu, Anda belajar cara menghitung persentase perubahan di sekolah dasar, tetapi itu bagus ketika Anda tidak perlu memasukkan ke kalkulator ponsel Anda atau menjalankan Excel. Kalkulator sederhana ini menunjukkan kepada Anda perubahan persen antara dua nilai.
  6. Think with Google
    Pikirkan dengan Google untuk melihat inovasi digital dengan cara yang hanya dapat dilakukan Google melalui data. Ini adalah sumber daya untuk semuanya, mulai dari wawasan tingkat tinggi hingga statistik siap pakai dan alat yang berguna. Anda akan menemukan data yang dijelajahi Google dan tren yang dilacaknya bersama dengan perspektif berwawasan ke depan dan di belakang layar melihat kampanye digital lintas platform dan audiens.
  7. R Studio
    Terkadang terasa enak jika tangan Anda mengotori data mentah. R Studio mengharuskan Anda mengetahui beberapa pengkodean, tetapi memberi Anda kekuatan luar biasa untuk membuat analisis statistik khusus. Ini adalah lingkungan pengembangan terintegrasi sumber terbuka gratis yang berarti terus ditingkatkan oleh komunitas analisis data yang menggunakannya.
  8. Stats iQ
    Stats iQ mungkin merupakan kutub yang sempurna berlawanan dengan R Studio karena ini adalah analisis statistik hardcore tanpa harus menjadi seorang penipu. Stats iQ secara otomatis menemukan hubungan dalam data Anda dan menunjukkan seberapa kuat hubungan tersebut. Stats iQ secara otomatis menjalankan tes statistik dan visualisasi yang tepat – kemudian menerjemahkan hasil Anda ke dalam bahasa sederhana yang dapat dilakukan siapa pun.
  9. Qualtrics Panels
    Ada lebih sedikit hal yang lebih tidak berguna daripada survei yang tidak dilakukan oleh siapa pun. Tim Panel Qualtrics memiliki akses ke ratusan ribu responden survei yang ikut serta, baik B2B dan B2C, yang sudah diperiksa dan berkualifikasi. Mereka menangani semua kuota, arahan ulang, dan skrining menyaring survei Anda untuk respons maksimum.
  10. Google Trends
    Sementara Google Trends memiliki beberapa crossover dengan Social Mention, Google memiliki fitur tambahan yang juga memperhitungkan data dari mesin pencari di samping platform sosial. Ini memberi Anda perspektif yang lebih komprehensif tentang berita, opini, pos dan persepsi yang memengaruhi merek Anda.

Sumber : Justin Ethington

Posted on

Tipe Transaksi Bisnis Electronic Commerce

Belakangan ini wacana pembicaraan dan diskusi mengenai perdagangan melalui electronic commerce semakin kerap dilakukan baik oleh para praktisi bisnis, pakar teknologi informasi, pemerhati perilaku masyarakat, maupun oleh kalangan pemerintahan. Tidak dapat dimungkiri lagi bahwa perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepat telah mempercepat dimulainya era globalisasi informasi dan ekonomi.

Dampaknya untuk negara berkembang paling tidak telah terlihat di beberapa kota-kota besar dalam bentuk mulai menjamurnya warung-warung berbasis teknologi informasi yang dapat dengan bebas dikonsumsi oleh masyarakat dan mulai dilaksanakannya sejumlah proyek electronic commerce di perusahaan-perusahaan dengan latar belakang industri yang beragam.

Pakar teknologi informasi Don Tapscott dalam salah satu bukunya yang berjudul “Blueprint to the Digital Economy – Creating Wealth in the Era of EBusiness” memperkenalkan paling tidak terdapat 4 (empat) tipe transaksi elektronik yang dapat dilakukan melalui dunia maya (cyber world). Tapscott memberikan istilah cyber community kepada masyarakat yang menggabungkan diri ke dalam cyber world untuk melakukan pertukaran data, informasi, produk, maupun jasa-jasa tertentu. Masyarakat ini dapat terdiri dari individu, keluarga, institusi, perusahaan, negara, maupun komunitas yang lebih besar. Dalam kerangka transaksi bisnis komersial, masing-masing entiti komunitas ini dapat berfungsi sebagai penjual produk atau jasa (seller) atau pembeli (buyer).

Keunikan masing-masing komunitas dalam melakukan transaksi komersial tersebut dapat dilihat dari dua perspektif:
 Aspek Kontrol (Control) – menggambarkan apakah dalam komunitas tersebut ada satu atau beberapa entiti yang memimpin dan mengkontrol terjadinya transaksi bisnis atau tidak. Jika ada, maka komunitas tersebut dikatakan memiliki ciri hirarkis (hierarchical), jika tidak maka komunitas tersebut dianggap sebagai independen (self organizing).
 Aspek Ketergantungan Proses (Value Integration) – menggambarkan apakah dalam komunitas yang ada terdapat hubungan ketergantungan entiti yang sangat erat (high) atau tidak (low).

Berdasarkan dua kacamata perspektif tersebut di atas, keempat jenis komunitas business elektronik (electronic business community) dapat terbentuk dengan ciri khas dan karakteristiknya masing-masing. Keempat komunitas tersebut dinamakan sebagai: open market, aggregation, integration, dan alliance (Tapscott, 1998).

Open Market Community

Komunitas ini merupakan versi elektronik dari pasar tradisional (agora) dimana para penjual dan pembeli bertemu secara langsung untuk mengadakan transaksi pertukaran barang atau jasa.
Secara bebas penjual dapat menjajakan produk dan jasanya kepada pembeli, sementara pembeli dapat melakukan transaksi dengan penjual yang dipilihnya secara bebas. Contoh yang paling klasik adalah pada industri stock exchange dimana terjadi penawaran dan pembelian saham secara bebas.

Contoh lain adalah perusahaan semacam eBay.com yang menawarkan jasa pelelangan barang melalui internet. Setiap orang dapat dengan leluasa meletakkan informasi mengenai barang yang ingin dilelang ke dalam situs (website) eBay.com dan bagi yang tertarik dapat segera melakukan penawaran melalui situs yang sama melalui mekanisme pelelangan.

Secara prinsip terlihat bahwa pada komunitas ini, penjual dan pembeli memiliki kedudukan yang sama, dalam arti kata tidak berlaku peraturan yang secara ketat mengikat mekanisme perdagangan yang terjadi.

Aggregation Community

Pada komunitas ini biasanya sebuah perusahaan berfungsi sebagai pemimpin atau mediator dalam proses transaksi elektronik yang terjadi antara produser dan konsumer (penjual dan pembeli). Contohnya adalah perusahaan semacam American Online atau Compuserve yang melakukan manajemen materi (content) terhadap informasi yang memiliki nilai tinggi.

Berbagai jenis perusahaan penghasil produk informasi semacam Harvard Business Review (Penerbit Buku), Mayo Clinic (Informasi Kesehatan), Reuter (Bursa Derivatif), dan lain sebagainya
mengadakan perjanjian kerjasama dengan perusahaan aggregator yang akan menawarkan produk-produk tersebut pada calon pembeli yang menjadi anggota/pelanggan tetap (member) dari perusahaan aggregator tersebut.

Contoh lain adalah situs milik Wal-Mart, perusahaan retail terbesar di Amerika yang menjual beribu-ribu item kebutuhan sehari-hari yang dapat dipesan melalui internet. Sebagai pemimpin dalam komunitas ini, perusahaan aggregator menerapkan peraturan-peraturan yang harus
ditaati baik oleh produser maupun konsumer agar terjadi mekanisme transaksi yang efektif, efisien, dan terkontrol dengan baik.

Value Chain Community

Kata “value chain” di sini berasal dari konsep rantai nilai yang diperkenalkan oleh Michael Porter. Dalam konsep keunggulan kompetitif-nya yang terkenal tersebut (competitive advantage), Porter menjelaskan bahwa aktivitas penciptaan suatu produk atau jasa harus melalui suatu urutan proses tertentu. Dikatakan olehnya bahwa sebuah perusahaan akan memiliki keunggulan kompetitif bila manajemen berhasil memiliki rantai proses yang paling efisien.

Seperti halnya pada komunitas aggregation, pada komunitas ini sebuah perusahaan berfungsi sebagai pemimpin. Bedanya adalah jika pada komunitas aggregation tujuan perusahaan yang menjadi pemimpin adalah untuk menggabungkan berbagai jenis produk atau jasa untuk menjadi
satu produk atau jasa baru (packaging management), obyektif dari perusahaan pemimpin dalam komuntias value chain adalah untuk menjamin terjadinya urutan proses yang efisien.

Contohnya adalah Amazon.com yang menjual beraneka ragam buku yang dapat dibeli oleh para konsumer di
seluruh dunia melalui internet. Secara prinsip, konsumer tidak perlu tahu dan tidak mau tahu bagaimana Amazon.com melakukan pemesanan terhadap buku yang diminta ke penerbit, melakukan produksi dan menyimpannya dalam gudang, mendistribusikannya ke seluruh
penjuru dunia, sampai dengan mengirimkannya ke tangan pelanggan.

Namun di belakang layar, manajemen Amazon.com harus berusaha mencari jalan yang paling efisien dan efektif dalam urutan proses pencetakan buku (lokasi percetakan dan jumlah buku), penyimpanan buku (lokasi gudang penyimpanan), pendistribusian buku (transportasi), sampai dengan pengiriman buku (kurir).

Alliance Community

Dari keempat komunitas yang ada, alliance adalah komunitas yang paling liberal dan virtual karena sifatnya yang ingin melakukan segala jenis integrasi perdagangan yang mungkin diadakan dalam cyberspace tanpa menerapkan berbagai jenis peraturan yang mengikat
(diistilahkan sebagai value space).

Untuk dapat berhasil dalam komunitas ini, sebuah perusahaan harus memiliki kreativitas yang tinggi dalam bentuk penemuan dan implementasi ide-ide baru dalam value space tersebut.

Contohnya adalah Visa International yang dikenal sebagai sebuah perusahaan yang sangat berhasil dalam menciptakan komunitas bisnis elektronis. Secara langsung Visa International telah membawa beribu-ribu perusahaan yang saling berkompetisi untuk menggunakan jasa
mereka. Jika pada awalnya pelanggan harus secara langsung mengajukan permohonan ke Visa International untuk memperoleh kartu kredit (credit card), saat ini dengan leluasa masyarkat dapat memilikinya melalui tabungan di bank-bank retail. Contoh lain adalah Java yang bersamasama dengan Sun, IBM, Oracle, dan Nestcape bekerja sama di cyber untuk mengalahkan dominasi kolaborasi Microsoft dengan Intel (Wintel).

Dalam komunitas ini terlihat bahwa prinsip kompetisi yang dipergunakan adalah “co-opetition”, yaitu filosofi “collaborate to compete” (berkompetisi dengan cara berkolaborasi untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar). Satu hal menarik lainnya adalah diperkenalkannya
istilah “prosumer” sebagai pengganti “producer” dan “consumer”, karena dalam komunitas value chain tidak jarang terlihat seorang pembeli yang pada saat bersamaan berfungsi sebagai penjual.

Contohnya adalah sebuah situs yang menawarkan penyewaan jasa groupware computing. Seseorang yang tertarik membentuk suatu komunitas kecil (groupware) diharuskan membayar situs tersebut secara berkala (abondemen), namun yang bersangkutan pada akhirnya akan
menarik bayaran kepada para anggota yang tergabung dalam komunitas tersebut (membership fee).

Dengan melihat keempat jenis komunitas tersebut di atas, para pengusaha dan praktisi bisnis di tanah air yang ingin segera masuk ke cyber community melalui perencananaan dan pengembangan electronic commerce di perusahaannya dapat mulai memikirkan strategi yang
tepat. Jelas terlihat bahwa masing-masing komunitas memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing (trade off), sehingga ada baiknya analisa cost-benefit dilakukan terlebih dahulu.

Pada akhirnya, dengan berasumsi bahwa pada suatu saat nanti jika seluruh individu di dunia telah tergabung secara elektronis, maka seorang kapitalis murni akan tinggal di sebuah negara yang paling murah, melakukan bisnis melalui internet dengan menjual produk dan jasanya di negara yang paling maju, dan mentransfer hasil usahanya ke bank-bank di negara yang paling aman. Dengan kata lain, dapat saja Indonesia penuh sesak oleh masyarakat yang berbelanja dan berbisnis melalui electronic commerce, tetapi tidak ada alir uang masuk ke tanah air.

Sumber : E-Commerce : “Strategi Bisnis Di Dunia Maya”, Richardus Eko Indrajit, Aptikom

Posted on

Membangun Komunitas Dunia Maya

Perkembangan Komunitas Dunia Maya

Terkadang masyarakat di negara berkembang sering merasa heran melihat bagaimana gencarnya majalah-majalah di dunia pada saat ini membahas dan menceritakan bagaimana internet dan teknologi informasi telah secara signifikan merubah perilaku manusia dan bisnis di beberapa negara sehingga telah membawa peradaban manusia kepada sebuah dunia baru yang diistilahkan sebagai “The Cyber Community”. Masyarakat tidak habis pikir bagaimana hal tersebut dapat terjadi mengingat bahwa tanda-tanda atau trend menuju ke arah sana tidak secara merata terlihat di negara-negara lain. Dan seandainya ada beberapa negara Asia yang telah mengalami fenomena yang sama, kemajuan tersebut hanya terasa paling tidak di ibukota negara dan sejumlah kota-kota besar lainnya. Contohnya di Indonesia. Demam warung internet dan electronic commerce nampaknya hanya terjadi di Jakarta saja.

Hal itupun tidak secara merata dirasakan oleh seluruh komunitas masyarakat. Hanya masyarakat bisnis atau mereka yang relatif memiliki tingkatan pendidikan tertentu saja yang memanfaatkan
komputer dalam menunjang kegiatan hidupnya sehari-hari.
Tengoklah bagaimana hal berbeda terjadi di kota-kota besar lainnya, seperti Ujung Pandang, Medan, Menado, Semarang, Palembang, yang hanya memandang teknologi informasi hanya pada
sebatas penggunaan electronic mail dan internet browser saja. Bahkan di Jakarta sekalipun, tidak jarang ditemui para pelaku bisnis yang pesimis terhadap perkembangan teknologi informasi di
Indonesia yang terasa sulit untuk dapat mengejar kecepatan perkembangannya di negara maju.

Seribu satu alasan dikemukakan, dengan salah satu alasan klasik yaitu masalah kesiapan dan keberadaan jaringan infrastruktur teknologi. Bagaimana mungkun hal tersebut menjadi keluhan
jika melihat bagaimana Telkom dan Indosat – yang didukung oleh perusahaan-perusahaan lain seperti Lintas Arta, Arthatel, EDI Indonesia, Indosatcom, dan lain sebagainya – telah memiliki
peralatan infrastruktur “state-of-the-art” (tercanggih) seperti yang layaknya dimiliki oleh negara-negara maju?

Infrastruktur Teknologi Informasi

Ada sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa kunci keberhasilan sebuah negara berkembang untuk dapat menuju kepada suatu negara industri terletak pada pembangunan dan pengembangan jaringan infrastrukturnya, yang dalam hal ini sikategorikan sebagai: jalan raya, telekomunikasi, jaringan listrik, pipa air minum, transportasi, dan lain sebagainya. Alasannya cukup sederhana, yaitu karena setiap kegiatan manusia sehari-hari memerlukan beragam komponen infrastruktur tersebut. Sehingga jika terjadi gangguan pada komponen yang ada, akan turut mempengaruhi pula tingkat produktivitas masyarakat dalam melakukan aktivitas seharihari. Melihat kenyataan tersebut, logikanya, biaya yang harus ditanggung masyarakat untuk memakai dan memanfaatkan infrastruktur ini haruslah cukup rendah, sehingga seluruh lapisan
masyarakat tanpa kecuali dapat memanfaatkannya secara leluasa.

Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur secara luas dan merata merupakan sebuah prioritas yang harus dilakukan oleh sebuah negara agar setiap titik komunitas yang tersebar secara geografis dapat dengan mudah bekerja sama dalam berbagai kegiatan, untuk menggerakkan roda perekonomian dan pertahanan negara yang bersangkutan. Sehingga tidak mengherankan, jika sebagian besar pajak atau pinjaman dari luar negeri dipergunakan secara intensif untuk membangun jaringan infrastruktur publik sebagai pendukung pembangunan nasional.

Di Amerika misalnya, jika sebuah komponen infrastruktur pertama kali dibangun, masyarakat harus membeli jasa atau produk pemakaian inftasruktur tersebut dengan suatu tingkatan biaya
tertentu. Sejalan dengan diperolehnya pendapatan dari masyarakat ini, pengelola infrastruktur akan secara perlahan-lahan mengurangi biaya pemakaiannya sejalan dengan tingkat kembalinya biaya investasi yang bersangkutan (return on investment) yang telah ditanamkan untuk biaya pembangunan proyek. Untuk jenis infrastruktur tertentu, seperti telepon dan listrik misalnya,
harga pemakaian akan turun sampai mencapat suatu level yang tetap (flat rate).

Sementara untuk beberapa jenis infrastruktur lainnya, seperti jalan dan air minum, penurunan biaya
dilakukan sedemikian rupa hingga pada suatu tingkatan dimana masyarakat dapat mengkonsumsinya secara gratis. Dalam kerangka ini, tidak heranlah jika seorang mahasiswa atau pengusaha, selama 24 jam menghubungkan komputernya dengan internet, karena tidak ada biaya variabel yang harus dibayarkan terhadap penggunaan pulsa telpon dan listrik. Bahkan bagi mereka yang bekerja pada institusi tertentu (swasta dan pemerintah) atau sedang mengenyam
pendidikan tertentu, sambungan internet diberikan secara gratis sebagai fasilitas penunjang aktivitas sehari-hari. Dengan kata lain, akses ke dunia maya (cyber space) dapat dilakukan dengan mudah, murah, dan cepat.

Digital Community Layers

Keadaan ini membuat Amerika telah semakin siap dalam membangun komunitas dan ekonomi digitalnya yang bertumpu pada transaksi-transaksi bisnis berbasis multimedia yang oleh Don
Tapscott dalam bukunya “Blueprint to the Digital Economy” digambarkan sebagai sebuah kerangka yang memiliki sejumlah komponen (layer) sebagai prasyarat (Tapscott, 1998):

  • Customer Layer menggambarkan bahwa para pengguna infrastruktur terdiri dari berbagai kalangan. Pelanggan tersebut dapat berasal dari kalangan bisnis, konsumen individual, keluarga, komunitas, maupun institusi-institusi lain.
  • Location Layer memperlihatkan bahwa para pelanggan tersebut harus dapat melakukan akses ke cyber space dari lokasi mana saja, seperti tempat kerja, pusat keramaian publik, kendaraan, dan rumah.
  • Appliances Layer merupakan ketersediaan sejumlah peralatan yang dapat menghubungkan setiap individu dengan inftastruktur teknologi informasi (distribution channels), mulai dari yang paling tradisional sampai yang tercanggih, seperti: faks, telepon, televisi, komputer, monitor canggih, personal digital assistant (PDA), kios, dan lain sebagainya.
  • Integration Management Layer yang merupakan inti dari jaringan infrastruktur teknologi informasi memperlihatkan bahwa terlepas dari berbagai jenis merek dan spesifikasi komponen-komponen yang ada, harus diimplementasikan suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang dapat mengintegrasikan seluruh komponen-komponen tersebut, baik secara teknis maupun non-teknis. Terlihat pada kerangka tersebut bahwa pada saat ini IP (Internet Protocol) merupakan salah satu hal yang telah disetujui bersama (common denominator) untuk dipergunakan sebagai standar komunikasi internasional.

Melihat target pemanfaatan teknologi informasi dari kerangka tersebut, terlihat bahwa pembangunan infrastruktur secara fisik saja tidak cukup untuk dapat mengefektifkan penggunaan teknologi informasi. Bersama dengannya, terkait pula hal-hal lain yang harus diperhatikan yang dalam konteks ini sering diistilahkan sebagai suprastruktur teknologi informasi.

Tahapan Pengembangan

Secara prinsip ada tiga tahapan utama yang harus dikembangkan oleh suatu negara jika ingin mulai membangun komunitas digital-nya (digital community), yaitu aspek pembangunan koneksitas, komunikasi, dan komunitas.

Pada tahap pertama, sasaran pengembangan terletak pada pembentukan jaringan yang dapat menghubungkan setiap individu dan komunitas yang ada. Terdapat tiga komponen pokok yang harus dikembangkan. Komponen pertama adalah media transmisi, baik melalui darat, laut, dan udara. Media transmisi disini diharapkan selain cepat dan ekonomis, harus pula memiliki bandwidth yang besar agar dapat dipergunakan bagi transaksi berbasis multimedia.

Pembangunan jaringan media transmisi harus dilakukan sedemikian rupa sehingga merata secara geografis (kualitas dan), dimana seluruh titik-titik komunitas di negara yang bersangkutan sedapat mungkin dapat terhubung.

Komponen kedua yang harus dikembangkan adalah manajemen pengelolaan jaringan media transmisi tersebut, yang memiliki tugas utama untuk mengatur, mencatat, memonitor, menganalisa, mengevaluasi, dan mengelola pemakaian media transmisi terkait oleh publik. Manajemen ini biasanya dibantu oleh peralatan dan fasilitas teknologi informasi tertentu untuk menjamin terciptanya proses pelayanan publik yang efisien, efektif, dan terkontrol dengan baik.

Jika kedua komponen pertama dibangun oleh perusahaan penyedia jasa infrastruktur (supply side), maka komponen ketiga merupakan aplikasi dan peralatan yang harus dimiliki oleh pelanggan (demand side) yang berniat untuk memanfaatkan fasilitas koneksitas tersebut. Komponen ini menyangkut perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang harus dimiliki dan diinstalasi di masing-masing komputer pelanggan atau peralatan elektronika lainnya (distribution channels).

Pada tahap kedua, pengembangan difokuskan pada pembangunan mekanisme pertukaran data dan informasi yang dipergunakan sebagai basis dalam melakukan transaksi komersial.
Pengembangan teknologi informasi seperti electronic commerce, distribution database system, electronic digital interchange (EDI), groupware computing, datawarehousing, dan lain sebagainya harus didukung dengan teknologi tambahan lainnya yang dapat menjawab persoalan-persoalan klasik bisnis yang dihadapi, seperti masalah security, digital signature, maintenance, outsourcing, web-hosting, dan lain-lain.

Menyangkut masalah pembangunan mekanisme yang dapat mendorong subyek-subyek cyber space untuk mulai melakukan transaksi komersial adalah ketersediaan sumber daya yang memiliki kompetensi dan keahlian tertentu.

Oleh karena itu keterlibatan konsultan manajemen, pakar hukum, perguruan tinggi, pusat-pusat riset dan pengembangan, lembaga-lembaga pemerintahan, institusi-institusi pelatihan, serta
vendor-vendor teknologi sangat dibutuhkan untuk bersama-sama meningkatkan kemampuan dan kepercayaan masyarakat dalam melakukan transaksi secara elektronis.

Setelah jalur koneksitas dan komunikasi antar subyek-subyek dan obyek-obyek pada cyber community telah dibangun, tibalah pada pelaksanaan tahap terakhir dalam pembangunan, yaitu
pengembangan komunitas itu sendiri. Tantangan membangun digital community dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang “mudah tetapi sulit”. Mudah karena pada dasarnya yang
dibutuhkan adalah hanya membangun content atau materi yang memungkinkan adanya interaksi positif antara komunitas yang terhubung melalui cyber space.

Namun di lain pihak usaha tersebut dirasa cukup sulit, karena masyarakat baru akan mencoba menoleh untuk masuk ke cyber community bila yang bersangkutan merasa benar-benar membutuhkannya (walaupun ada sebagian kecil di antara mereka yang bergabung dengan cyber community karena memiliki niat untuk bereksperimen atau uji coba).

Dengan kata lain, cyber community baru akan tercipta dan berkembang jika produk-produk atau jasa-jasa yang ditawarkan di cyber space benar-benar secara signifikan akan memberikan keuntungan-keuntungan baik secara material maupun nonmaterial yang tidak dapat dilakukan dan diperolah melalui sistem transaksi tradisional.

Dari paparan ringkas di atas terlihat jelas bahwa infrastruktur fisik hanya merupakan salah satu komponen kecil pembentuk suatu digital community. Dengan kata lain, memiliki infrastruktur
telekomunikasi yang canggih (state-of-the-art) tidak menjamin telah siapnya suatu negara untuk dapat segera bergabung dalam sebuah digital community.

Bagaimana masyarakat dapat “tergilagila” dengan internet dan teknologi informasi jika masih terjadi fenomena seperti pulsa telepon naik terus, harga listrik tidak pernah turun, jasa internet provider masih cukup mahal, pembangunan tidak merata di seluruh tanah air, KKN merajalela di semua aspek kehidupan, pendidikan tinggi masih berbasis gelar, korupsi yang masih membudaya, utang luar negeri yang semakin membengkak, dana pinjaman yang salah alokasi dan monopoli yang masih merajalela?

Setidak-tidaknya seluruh lapisan masyarakat dapat mulai merenung, bahwa terlepas dari “kehebatan-kehebatan” pembangunan ekonomi dan politik yang telah terjadi di tanah air, terdapat laporan hasil penelitian yang menempatkan Indonesia di urutan 105 dari kurang lebih 177 negara di dunia dilihat dari segi kesiapan infrastruktur dan suprastruktur teknologi informasinya. Suatu “prestasi” yang masih jauh dari harapan, yang tidak begitu berbeda dari ranking persepakbolaan nasional di kiprah dunia.

Sumber : E-Commerce : “Strategi Bisnis Di Dunia Maya”, Richardus Eko Indrajit, Aptikom


Posted on

Peluang dan Tantangan E-commerce di Indonesia

Menurut data Badan Pusat Statistik Indonesia, proyeksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 berjumlah sekitar 255 juta penduduk dan akan mencapai sekitar 305 juta penduduk pada tahun 2035. Hal ini memberikan dampak positif bagi bangsa Indonesia karena ini akan membuat investor tertarik untuk berinvestasi dan membuka industri di Indonesia karena dengan jumlah penduduk yang cukup besar akan menciptakan permintaan barang dan jasa yang cukup tinggi pula di banding dengan negara lain.

Namun di karenakan kondisi negara Indonesia yang notabene adalah negara kelautan dimana terdiri dari 5 pulau besar dan pulau-pulau kecil lainnya serta pertumbuhan antar pulau yang belum merata dimana masih banyak terpusat di pulau Jawa maka hal ini membuat penduduk yang ada di pulau lain harus merogoh kocek cukup dalam untuk dapat berbelanja di pulau Jawa di karenakan tidak semua barang terdapat di daerah tinggalnya.

Hal ini perlahan mulai dapat di atasi berkat kemajuan teknologi, terutama teknologi internet dan mulai banyak orang melakukan jual beli melalui dunia internet yang sering kita sebut sebagai e-commerce. Dengan adanya e-commerce maka penduduk di pulau lain tidak perlu susah payah dan merogoh kocek cukup dalam lagi untuk berbelanja barang yang di inginkannya.

Saat ini semakin banyak situs jual beli online yang bermunculan di Indonesia, baik dari lokal, seperti tokopedia.com maupun dari luar negeri yang membuka cabang di Indonesia, seperti Lazada.co.id. Bahkan perusahaan yang sebelumnya tidak masuk dalam sektor industri ini sekarang mulai masuk dalam sektor industri ini, seperti XL yang bekerja sama dengan SK Planet Co. Ltd. dari Korea yang menghasilkan situs elevenia.co.id, dan Lippo Group yang baru saja meluncurkan mataharimall.com.

Pesatnya pertumbuhan situs jual beli online di Indonesia tentu tidak terlepas dari jumlah penduduk Indonesia yang cukup banyak dan negara kelautan yang memberikan peluang cukup besar bagi jual beli secara online karena pembeli tidak perlu merogoh kocek cuup dalam lagi dan membuang waktunya untuk membeli sesuatu ke daerah lain namun hanya perlu membuka internet dan barang yang di beli pun akan segera di kirimkan oleh situs jual beli online tersebut.

Bahkan menurut catatan Lippo Group saat peluncuran mataharimall.com, total penjualan online baru sekitar 0,7% dari total penjualan ritel di Indonesia serta penetrasi internet akan mencapai 30% lebih pada tahun ini. Hal ini tentu menunjukan bahwa peluang dalam sektor industri jual beli online ini masih terbuka cukup besar.

Dengan peluang tersebut bukan berarti sektor industri jual beli online ini dapat melaju bebas. Sektor industri jual beli online ini memiliki tantangan tersendiri, seperti keamanan data pembeli dari hal yang tidak di inginkan dari bertransaksi dalam situs jual beli online, kesamaan barang yang terdapat dalam situs dengan barang yang di kirimkan ke pembeli, dan lain sebagainya.

Akhir kata, situs jual beli online yang berkembang saat ini tentu memberikan kemudahan bagi kita untuk membeli sesuatu yang kita inginkan namun tetap berhati-hati dan cermat dalam memilih situs jual beli online serta dalam melakukan transaksi sangat di perlukan.

Sumber : Welly Senjaya

Posted on

Peluang dan Tantangan Indonesia dalam Kerja Sama Perdagangan Internasional

Berbagai forum kerja sama, baik bilateral, regional maupun multilateral dari waktu ke waktu telah menunjukan arah perdagangan yang semakin liberal dalam pengertian mengurangi berbagai pembatasan akses pasar dan pembatasan national treatment. Walaupun demikian, dewasa ini berbagai pembatasan perdagangan yang bersifat trade distortive dalam bentuk subsidi, hambatan tarif dan non tarif serta proteksi regulasi masih banyak terjadi di berbagai negara, termasuk negara-negara maju sekalipun. Upaya-upaya untuk mencapai tingkat liberalisasi yang lebih tinggi bukannya tanpa persoalan, baik dalam tataran nasional maupun dalam tataran internasional. Sensitivitas kebijakan perdagangan dan politik telah semakin mempersulit proses liberalisasi pasar.
Bagi Indonesia sendiri keikutsertaan Indonesia dalam berbagai forum kerja sama perdagangan internasional diyakini dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Walaupun demikian tantangan yang ditimbulkan sebagai konsekuensi keikutsertaan Indonesia tersebut ternyata tidaklah sedikit, baik tantangan ekonomi maupun tantangan politis dan sosial. Tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia sangatlah besar yang meliputi kurangnya kapasitas nasional, lemahnya infrastruktur fisik, kurang kondusifnya kondisi social-politik-hukum, rendahnya investasi asing, biaya ekonomi tinggi, tenaga kerja yang kurang kompetitif yang kesemuanya menjadikan produk-produk Indonesia kurang kompetitif di pasar internasional. Upaya-upaya yang sistematis dan konsepsional untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional perlu dilakukan agar Indonesia dapat memanfaatkan liberalisasi perdagangan dunia dengan baik. Dalam hal ini, penulis akan memberikan uraian dan analisa mengenai kebijakan perdagangan Indonesia, peluang dan tantangan perdagangan barang dan jasa baik secara multilateral, regional, dan bilateral serta meningkatkan daya saing dan langkah ke depannya.

A. Kebijakan Perdagangan Indonesia

Kebijakan perdagangan suatu negara sangat berpengaruh pada besarnya magnitude dan pola perdagangan negara tersebut. Untuk itu dalam menetapkan kebijakan perdagangan perlu dikaitkan dengan pola pembangunan secara komprehensif, sehingga dapat secara optimal mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, kebijakan perdagangan seharusnya saling terkait dengan pola industrialisasi yang dipilih serta kebijakan yang mendorong investasi.
Secara garis besar, kebijakan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia adalah sebagai berikut :
 Tahun 1983-1986 (Resesi Ekonomi). Melakukan kebijakan reformasi di bidang perdagangan dan investasi yang dimulai dengan stabilisasi ekonomi makro yakni pengetatan fiskal dan devaluasi rupiah. Devaluasi rupiah dilakukan untuk menggenjot ekspor (non migas) dan memperbaiki neraca pembayaran. Kebijakan pengetatan fiskal dilakukan dengan mengurangi subsidi minyak, sektor pertanian dan BUMN.
 Tahun 1990-an menyikapi perkembangan ekonomi internasional, pemerintah melakukan strategi globalisasi dengan melakukan deregulasi kebijakan untuk mengundang investasi ke Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan pengurangan tarif (bea masuk) untuk komoditas tertentu.
 Untuk membangun kembali perekonomian yang terpuruk akibat krisis, pemerintah meminta bantuan IMF yang meliputi perbaikan di sektor fiskal dan moneter, juga termasuk liberalisasi sektor perdagangan baik menghapus semua restriksi non tarif maupun batasan ekspor.
 Sementara itu, integrasi kawasan Asia Timur, dan mandeknya negosiasi WTO membuat negara-negara termasuk Indonesia melakukan terobosan baru dalam pengaturan perdagangannya yakni dengan membuat blok-blok perdagangan regional (regional trade agreement) dan bilateral (bilateral trade agreement).
Perkembangan Kebijakan Perdagangan Indonesia
Periode Kebijakan
1948-1996 Ekonomi nasionalis: Nasionalisasi perusahaan Belanda
1967-1973 Sedikit liberalisasi perdagangan
1974-1981 Substitusi impor, booming komoditas primer dan minyak
1986-sekarang Liberalisasi perdagangan dan orientasi ekspor

B. Perdagangan Indonesia, Peluang dan Tantangan dalam Perdagangan Multilateral

Di bidang perdagangan barang, Indonesia memiliki peluang ekspor yang lebih baik mengingat kekayaan sumber daya alam dan berlimpahnya tenaga kerja yang dimiliki. Lebih jauh lagi peningkatan ekspor ini telah didukung pula dengan fasilitas perbankan yang semakin terbuka dan relatif stabil. Ekspor Indonesia kebanyakan ditujukan ke Negara-negara mitra dagang utama seperti : Asia Timur (34,1%) terutama Singapura,Thailand, dan Malaysia; Jepang (14,7%); Uni Eropa (13,5%) dan AS (13,9%). Jenis barang yang di ekspor tersebut yaitu Crude Palm Oil (CPO), Batu Bara, Kayu, Pulp dan Paper, Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Namun, dari kesemuanya ekspor barang tersebut Indonesia memiliki tantangan yang harus benar-benar diperhatikan. Contohnya, di pasar dunia, Indonesia harus menghadapi pesaing utamanya yaitu Malaysia dalam ekspor CPO dimana kedudukan antara kedua Negara ini disini merupakan produsen utama CPO dunia dengan penguasaan pasar lebih dari 80%.
Di bidang perdagangan jasa, sejak diberlakukan nya liberalisasi sektor jasa dalam GATS, terlebih lagi dengan permintaan Negara-negara maju dalam perundingan WTO agar Negara berkembang lebih membuka pasarnya, merupakan hal yang berat bagi Indonesia. Hal ini dikarenakan kelangkaan faktor pendukung sektor jasa. Akibat dari permasalahan ini menyebabkan sektor jasa tidak dapat bersaing dibandingkan dengan Negara-negara lain yang lebih kompetitif. Maka tidak heran, apabila lebih banyak jasa-jasa asing yang masuk ke Indonesia. Banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia, sementara sebaliknya hampir tidak ada industri jasa-jasa Indonesia yang beroperasi di luar negeri. Sebut saja jasa transportasi, misalnya transportasi angkatan udara, flight carrier nasional belum mampu bersaing dengan flight carrier Negara tetangga seperti Singapura meski sudah berdiri puluhan tahun.

C. Perdagangan Indonesia, Peluang dan Tantangan dalam Perdagangan Regional

Proses integrasi sektor-sektor AFTA dimulai tahun 2005 dan penghapusan tariff akan diterapkan pada tahun 2010 pada 6 negara anggota lama untuk semua sektor yang disepakati. Sebagaimana kesepakatan agustus 2006, penerapan penghapusan tarif dipercepat menjadi tahun 2007 karena pembentukan pasar tunggal ASEAN dipercepat dari tahun 2020 menjadi tahun 2015. Hingga tahun 2005, telah disepakati 11 sektor strategis (termasuk logistic tahun 2006) yang bebas diperdagangkan di ASEAN, 7 diantaranya merupakan produk industri barang seperti elektronik, tekstil, dan produk tekstil (TPT), agro processing, karet, otomotif, hasil kelautan dan produk kayu. Sisanya merupakan industry jasa penerbangan, pariwisata, teknologi informasi, dan jasa kesehatan. Empat industry barang yang disebut pertama mendominasi perdagangan intra ASEAN. Kebijakan domestic negara anggota ASEAN telah membentuk pola (pattern) perdagangan intra-ASEAN dan model integrasi yang diadopsi dari masing-masing sector. Sebagai contoh, untuk produk karet pola perdagangan intra ASEAN menunjukkan bahwa negara seperti Indonesia, Myanmar, Philipina, Thailand, dan Vietnam mengekspor karet mentah ke Malaysia dan Singapura untuk kemudian diekspor kembali ke negara-negara tersebut dalam bentuk karet olahan.
Sejak kenaikan BBM oktober 2005 ekspor kayu (tripleks) Indonesia pada kawasan regional harus bersaing ketat dengan Malaysia yang berani menetapkan harga jauh dibawah harga pasar. Selain itu kayu yang diekspor Malaysia juga sudah mengalami pengolahan lebih jauh sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi. Permasalahan kayu di Indonesia terutama adalah praktek illegal logging yang menyebabkan bahan baku kayu menjadi semakin sulit serta teknologi permesinan yang sudah using sehingga mengurangi produktivitas. Untuk meningkatkan ekspor kayu, pemerintah harus secara konsisten memerangi praktek illegal logging serta mengganti mesin-mesin tua yang pada gilirannya dilakukan untuk mengundang investor asing. Indonesia juga pengekspor karet bersama Malaysia dan Thailand, namun untuk pasar ASEAN, Thailand memberikan kontribusi lebih besar yakni sekitar 43%, sementara Indonesia dan Malaysia menguasai sekitar 48 %. Sayangnya, produk ekspor karet ini masih dalam bentuk karet mentah sehingga efek nilai tambahnya sangat kecil. Peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produk karet menjadi industry yang diandalkan masih terbuka, mengingat RCA (Revealed Comparative Advantage) untuk produk karet olahan lebih besar dari 1 yaitu 1,07. Sektor jasa yang disepakati dalam kerangka AFAS meliputi sektor-sektor : transportasi udara, jasa usaha, konstruksi, jasa keuangan, jasa pelayaran, telekomunikasi dan parawisata. Bagi Indonesia, AFAS memberikan peluang kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari pasar bersama yang besar dan kenaikan aliran factor produksi untuk mendorong pertumbuhan lebih jauh lagi, dan peluang yang akan diperoleh adalah akses yang lebih baik kepada tekhnologi,jasa pasokan,serta kompetisi domestik lebih tinggi.

D. Perdagangan Indonesia, Peluang dan Tantangan dalam Perdagangan Bilateral

Dalam melakukan bilateral FTA, Indonesia perlu memilih Negara mitra secara selektif dan belum perlu membuat FTA bilateral dengan banyak Negara. Adapun mitra dagang utama Indonesia saat ini adalah Amerika Serikat, Singapura, Thailand, Hongkong, Jepang, Malysia, Auatralia, China, Korea Selatan, Belanda, Jerman, Inggris, dan Taiwan. Mitra dagang terbesar Indonesia untuk kawasan ASEAN adalah Singapura yang merupakan 11% dari seluruh total perdagangan Indonesia. Di luar ASEAN, mitra dagang terbesar Indonesia adalah Jepang (15% dari total) dan Amerika Serikat (14% dari total). Berdasarkan data tersebut FTA bilateral yang dapat dipertimbangkan Indonesia untuk dijajagi adalah Jepang atau Amerika Serikat. Perjanjian bilateral dengan Jepang saat ini tengah berlangsung dalam bentuk IJ-EPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement). Sementara penjajagan bilateral dengan Amerika Serikat dilakukan dengan pertimbangan ekonomi Amerika Serikat sangat besar sehingga diasumsikan bahwa Amerika Serikat merupakan motor penggerak dari sebagian besar negoisasi perdagangan internasional dan tentu saja terkait dengan kebijakan perdagangannya. Apabila dipersiapkan dengan baik kemungkinan Indonesia dapat memperoleh banyak manfaat dengan terbentuknya FTA. Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia telah menjalin kerja sama BTA dengan Singapura, dan selanjutnya dengan Thailand dan Malaysia. Keadaan ini berpotensi menjadi cost of exclusion bagi Indonesia bilamana Indonesia tidak segera melakukan FTA dengan Amerika Serikat.
Hubungan ekonomi bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat sangat strategis karena negara tersebut merupakan salah satu mitra mitra ekonomi Indonesia yang penting. Nilai investasi Amerika Serikat di Indonesia pada saat ini mencapai USD 10,4 miliar (80% berada di sektor migas). Sedangkan nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat pada 2005 mengalami peningkatan sebesar 11,16% yakni dari USD 10,81 miliar pada 2004 menjadi USD 12,01 miliar pada tahun 2005 (sesuai data US Departement of Commerce). Kemungkinan Indonesia mengambil peluang dagang dengan Amerika Serikat masih terbuka karena permintaan pasar dunia untuk produk-produk Indonesia terutama produk pertanian dan mineral sangat dibutuhkan oleh Negara-negara lain. Jenis komoditi barang yang di ekspor Indonesia selain minyak dan gas adalah produk pertanian, mineral, dan produk industri. Selain BFTA yang tengah dijalankan dengan Jepang dan Amerika, FTA yang sudah dijalankan saat ini yakni antara ASEAN dan China (AFTA) dimana proses awal penurunan tariff sudah dimulai sejak tahun 2004. Ekspor Indonesia ke China dan beberapa Negara ASEAN lain pada dasarnya saling melengkapi atau komplementer dalam arti bahwa produk ekspor Indonesia merupakan input bagi produksi China dan Negara-negara ASEAN. Indonesia menjadi komplementer dengan China untuk produk-produk seperti ; organic chemicals, fixed vegetable oils & fats, pulps & waste paper, crude rubber, wood & cork manufactured. Walaupun produk-produk tersebut merupakan komplementer bagi China, hal ini tidak berarti bahwa Indonesia tidak menghadapi tantangan. Tantangan berasal dari Negara-negara lain yang mengekspor produk yang sama ke China, terutama Thailand, Vietnam dan Filipina. Adapun pangsa ekspor rata-rata masing-masing Negara ke China adalah sebagai berikut: Indonesia 0,85%, Malaysia 1,53%, Thailand 1,3%, dan Filipina 0,44% dari rata-rata tahunan impor China dalam periode 2001-2005. Selain itu, Di Indonesia sendiri, China merupakan pesaing terhadap produk-produk domestic yang telah membanjiri hampir di seluruh pelosok negeri dan terkadang sulit dikendalikan karena produknya murah dan tahan lama. Dalam investasi, China juga merupakan pesaing Indonesia dalam menarik PMA. Dalam hal ini, iklim investasi di China memiliki lebih banyak keunggulan daripada Indonesia ditinjau dari berbagai aspek, seperti: kepastian hukum, infrastruktur, perpajakan, produktivitas buruh, dan sebagainya. Sebagai akibatnya ialah PMA di Indonesia hampir tidak mengalami pertumbuhan. Dampak terhadap perdagangan ini banyak bergantung pada pola hubungan Indonesia—China, apakah bersifat competitor, komplementer, atau keduanya bisa competitor untuk suatu produk atau industry dan komplementer untuk yang lainnya. Penelitian beberapa ahli menunjukkan bahwa Indonesia dan China berkompetisi untuk sekitar 85% dari nilai ekspor di pasar Amerika Serikat dibandingkan negara ASEAN lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pangsa pasar ekspor barang Indonesia di pasar utama semakin terancam oleh barang-barang China.

E. Langkah Ke Depan

Secara internal beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah :
i. Perbaikan iklim investasi, melalui:
a) Mengurangi praktek ekonomi biaya tinggi, seperti pemangkasan jalur birokrasi dan pengurangan pungutan liar
b) Penerapan tata kelola pemerintah dan korporasi (good governance), seperti perbaikan tata kerja dan transparansi kebijakan.
c) Menjaga kelangsungan keberadaan produk unggulan saat ini dalam hal kualitas dan tingkat daya saing.
d) Reformasi kebijakan pajak (juga mempertimbangkan target pertumbuhan ekonomi)
e) Perbaikan infrastruktur, seperti jalan raya, pelabuhan dan energy
f) Meningkatkan koordinasi kebijakan antar departemen yang terkait.
ii. Peningkatan daya saing produk barang dan jasa, melalui:
a) Pemetaan permasalahan yang dihadapi oleh sektor dan produk unggulan
b) Pemetaan produk potensial untuk dikembangkan
c) Pemetaan posisi Indonesia dalam konfigurasi kerja sama perdagangan internasional.
d) Peningkatan kualitas faktor-faktor pendukung daya saing Indonesia sesuai dengan arah pengembangan kebijakan perdagangan internasional.
e) Capacity building sumber daya manusia baik pelaku usaha maupun pembuat kebijakan
f) Penerapan Indonesia Incorporated yakni sinergi dari semua pihak untuk mencapai satu tujuan atau visi dalam kurun waktu yang ditetapkan.
iii. Pembenahan di Bidang Hukum, dicapai melalui:
a) Perbaikan infrastruktur hokum yang mendukung perdagangan internasional.
b) Capacity building penegak hukum mengenai perdagangan internasional.
c) Penegakan good governance dan kredibilitas para penegak hukum.
iv. Secara eksternal, yaitu : memperluas strategi pasar, melalui
a) Penyusunan strategi akses pasar yang berbeda untuk Negara maju dan berkembang.
b) Penyusunan strategi pengembangan perdagangan internasional dalam tataran multilateral dan regional (termasuk bilateral).
v. Pengoptimalan negoisasi perundingan kerja sama perdagangan internasional, melalui perbaikan koodinasi antar institusi dan kemitraan Indonesia dengan pelaku bisnis dan pihak terkait lainnya serta peningkatan kualitas negoisasi dan kualitas negosiator.

Sumber

Posted on

TEORI KEUNGGULAN KOMPARATIF DAVID RICARDO

Keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo dalam bukunya Principles of Political Economy and Taxation (1817). walaupun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua jenis komoditi yang dihasilkan, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Teori keunggulan absolut tidak dapat digunakan sebagai dasar dalam perdagangan internasional apabila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Atau dengan kata lain bahwa bila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi, maka perdagangan tidak akan terjadi. Namun dengan teori keunggulan komparatif, perdagangan internasional antara dua negara masih dapat berlangsung walaupun salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi.

Hal tersebut dapat dijelaskan pada contoh di bawah ini.

NegaraPermadaniSutraDasar Tukar Domestik (DTD)

Iran

30 menit/meter

24 menit/meter
1 meter sutra  = 0,8 meter                        permadani

Bangladesh

40 menit/meter

50 menit/meter
1 meter sutra  = 1,25 meter                        permadani

Pada tabel tersebut dilihat jumlah waktu yang digunakan tanpa memperhatikan perbandingan dasar tukar domestik antara permadani dan sutra di kedua negara, tampaknya India memiliki keunggulan absolut atas permadani dan sutra, mengingat Iran dapat menghasilkan permadani dalam waktu 30 menit/meter, sedangkan Bangladesh menggunakan waktu yang lebih banyak 40 menit/meter, begitu pula sutra, Iran hanya menggunakan waktu 24 menit/meter, sedangkan Bangladesh menggunakan 50 menit/meter. Dengan demikian berdasarkan teori keunggulan absolut, perdagangan antara kedua negara tidak akan terjadi, karena Iran memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Berdasarkan pada teori keunggulan komparatif, perdagangan antara Iran dan Bangladesh masih tetap akan terjadi, karena secara komparatif dimana Iran memiliki keunggulan atas sutra dan Bangladesh memiliki keunggulan atas permadani. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan dasar tukar domestik masing-masing negara, yaitu DTD di Iran adalah 1 meter sutra dapat ditukar dengan 0,8 meter permadani, sementara di Bangladesh 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1,25 meter permadani. Atau dengan kata lain bahwa di Iran harga sutra lebih murah di banding harga permadani (karena ongkos produksinya hanya 24/50 atau 48 % dari ongkos produksi sutra di Bangladesh,

Posted on

Kerjasama Perdagangan Internasional

Satu perdebatan utama dalam kerjasama perdagangan internasional berkisar pada pertanyaan apakah suatu negara sebaiknya mengikuti kebijakan perdagangan bebas ataukah proteksionis. Suatu negara secara teoritis dapat memilih kebijakan perdagangan “Laissez Faire” sedemikian rupa sehingga tukar-menukar komoditi antar negara sama sekali tidak terhambat. Kondisi ini dikenal dengan perdagangan bebas (free trade). Atau, negara tersebut menciptakan segala macam aturan yang mematikan semua insentif untuk melakukan perdagangan antar negara. Ini disebut dengan kondisi autarki (autarky). Tetapi, dalam prakteknya tidak ada negara di dunia yang menempuh kebijakan-kebijakan ekstrem tersebut. kebijakan yang mereka pilih berada dalam spektrum di antara keduanya. Dalam spektrum tersebut, langkah-langkah yang ditempuh suatu negara menuju kondisi perdagangan bebas disebut dengan liberalisasi perdagangan. Upaya proteksionis sebaliknya merujuk pada langkah-langkah suatu negara untuk melindungi usaha domesatik dari tekanan persaingan internasional.

Argumen-argumen yang diusung baik oleh pendukung kebijakan perdagangan bebas maupun proteksionis dapat ditemukan dalam teori perdagangan. Pendukung kebijakan perdagangan bebas menekankan temuan (premise) teori bahwa perdagangan bebas akan meningkatkan efisiensi ekonomi dan karenanya menaikkan kesejahteraan nasional. Pendukung kebijakan proteksionis mengedepankan temuan lain yang menyatakan bahwa meski sebagian kelompok masyarakat memetik keuntungan dari perdagangan bebas, sebagian lain bisa menderita kerugian. Jumlah mereka yang merugi mungkin signifikan. Pendukung kebijakan proteksionis juga menyuarakan temuan teori bahwa kebijakan proteksionis pada kondisi tertentu bisa mendatangkan keuntungan bagi negara.

Perdebatan pro dan kontra perdagangan bebas ini tampaknya belum akan segera berakhir. hanya saja, momentum liberalisasi perdagangan akhir-akhir ini bertambah kuat. Kisah sukses ekonomi China yang membuka diri terhadap ekonomi (perdagangan) dunia sejak akhir tahun 1970-an, bergabung dalam kerja sama liberalisasi perdagangan multilateral WTO di tahun 2001, serta aktif dalam sejumlah kerjasama liberalisasi perdagangan bilateral dan regional membuka mata banyak negara di dunia akan besarnya manfaat yang bisa dipetik dari perdagangan bebas.

Pengalaman China merupakan contoh nyata bagaimana sutu negara pada dasarnya dapat melakukan upaya liberalisasi perdagangan secara unilateral atau pun melalui kerjasama plurilateral (bilateral, regional, dan multilateral) Namun upaya liberalisasi perdagangan secara uni lateral dalam banyak hal kurang mampu mendatangkan hasil yang diharapkan. It takes two to tango. Kecuali jika negara mintra dagang melakukan langkah liberalisasi yang sama, langkah liberalisasi secara unilateral ini rentan “dimanfaatkan ” oleh negara mitra dagang yang proteksionis atas beban kerugian negara yang melakukan liberalisasi. Perang dagang sangat mungkin muncul bila pihak yang dirugikan berupaya menekan kerugian dengan melakukan langkah proteksionis balasan. Hasil akhir sub-optimal bagi kedua belah pihak menjadi ujung dari perang dagang. Dari sini muncul pemikiran negara-negara untuk menjalin kerjasama perdagangan antar negara guna meraih hasil yang lebih optimal. Negara-negara tersebut sepakat untuk melakukan upaya liberalisasi perdagangan secara bersama-sama(plurilateral), non diskriminatif, dan timbal balik (resiprokal).

WTO dengan keanggotaan lebih dari 140 negara dewasa ini merupakan bentuk kerjasama liberalisasi perdagangan dalam tataran multilateral, bersifat non diskriminasi, dan resiprokal. Namun, upaya liberalisasi perdagangan di bawah payung WTO hingga kini berjalan lamban. SEbagai reaksi atas perkembangan ini, kerjasama liberalisasi perdagangan secara bilateral dan regional dalam beberapa tahun terakhir bermunculan seperti jamur di musim hujan. Isu kritis dalam hal ini adalah apakah kerjasama perdagangan bilateral dan regional dimaksud akan menjadi penghambat (stumbling block) atau justru sebaliknya pendorong (building block) bagi terciptanya perdagangan bebas dunia seperti yang dicita-citakan dari pembentukan WTO.